Viral Sebutan ‘Liga 4 Mati Suri’ dari Koja Mania, Begini Penjelasan Resmi PSSI Jambi
Jambi - Tensi antara federasi dan suporter memanas. Hubungan antara PSSI dan kelompok suporter Koja Mania, mendadak menjadi sorotan publik. Hal ini dipicu oleh kritikan tajam Koja Mania di media sosial Sabtu, (11/4/2026) yang menyebut kompetisi Liga 4 di Jambi saat ini sedang dalam kondisi "mati suri". Cuitan tersebut viral dan mendapat tanggapan tajam dan beragam dari warganet terhadap kerja PSSI Provinsi Jambi.
Terlebih sorotan Koja Mania terkait penjualan tiket pada laga Liga 4 Piala Gubernur Jambi yang tengah berlangsung di Stadion Swarna Bumi sejak 10 hingga 19 April mendatang.
Koja Mania menyuarakan kegelisahan mereka sebagai pendukung klub akar rumput, yang menyebut mereka tengah membangkitkann euforia sepak bola.
Mendengar dan melihat kritik tersebut berseliweran di media sosial, PSSI Provinsi Jambi memberikan respons yang defensif sekaligus mengklarifikasi. PSSI menilai bahwa menghidupkan ekosistem liga bawah bukan hanya tugas federasi, melainkan butuh komitmen dari klub dan dukungan nyata suporter di stadion.
"Kalian kemana saja?" cetus Humas sekaligus Media Officer Liga 4 PSSI Jambi musim 2025-2026, Muhammad Husen, menanggapi keluhan tersebut.
Husen menjelaskan, bahwa PSSI Provinsi Jambi yang sebelumnya Asprov PSSI Jambi dalam kurun waktu 5 tahun belakangan tidak pernah absen menggelar Liga 4 yang sebelumnya Liga 3 zona Jambi. Terlebih di masa kepemimpinan Ketua PSSI Fadhil Arief yang juga menjabat Bupati Batang Hari. Pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini bahkan menyebut bahwa Koja Mania lah yang pantas disebut "Mati Suri".
"Saya mau nanya, kemana Koja Mania saat klub-klub asal Kota Jambi seperti Persijam, PLN bahkan Persikoja berlaga di Liga 4 tahun-tahun sebelumnya yang berlangsung di stadion KONI Batang Hari misalnya ? Kami tidak melihat dukungan fanatik bahkan eoforia kalian yang katanya membangkitkan sepak bola terhadap klub tersebut yang berjuang untuk meraih poin dalam setiap pertandingan,"tegas Husen pada Minggu, (12/4/2026).
Husen menambahkan, partisipasi rendah banyak klub di kasta bawah yang secara administrasi dan finansial belum siap, namun suporter dianggap kurang membantu dalam aspek komersial lokal.
"PSSI mempertanyakan kehadiran suporter Koja Mania saat laga-laga kecil berlangsung, yang seringkali sepi. Jika kalian menyebut membangkitkan euforia sepak bola, harusnya kalian tak pandang bulu memberikan dukungan terhadap khususnya klub maupun Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kota Jambi ketika berlaga di kompetisi-kompetisi resmi PSSI Jambi, seperti Liga 4 dan Piala Soeratin,"kata Husen.
Hal lain yang disikapi oleh PSSI Provinsi Jambi atas cuitan Koja Mania di media sosial yakni menyoal tiket masuk di Liga 4 musim ini. Secara tegas PSSI menyatakan bahwa PSSI Jambi tidak mengurus terkait Harga Tiket Masuk (HTM) pada kompetisi ini. Apalagi mengintervensi berapa besaran yang pantas untuk penjualan harga tiket.
"Urusan tiket di tangan EO yang berkolaborasi dengan Panpel dari Pemerintah Provinsi Jambi. Sementara PSSI menyangkut teknik pertandingan yang bertanggung jawab agar pertandingan berjalan lancar. Seperti menugaskan perangkat pertandingan yakni wasit, pengawas pertandingan atau Match Commisioner hingga panitia teknis,"ujar Husen.
Perselisihan ini mencerminkan jurang pemisah yang lebar antara ekspektasi suporter fanatik dengan birokrasi di tubuh PSSI. Bagi Koja Mania, Liga 4 adalah napas bagi klub kebanggaan mereka, Sementara bagi PSSI, Liga 4 adalah program panjang yang membutuhkan standar keamanan dan manajemen yang lebih ketat pasca-transformasi sepak bola nasional.(red)
